Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]


Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah sejak Senin (13/8) kemarin. Pada perdagangan Selasa (14/8), mengutip data perdagangan Reuters, dolar AS dibuka di Rp 14.595. Dolar AS terus naik dan mencapai posisi tertingginya pagi ini di Rp 14.625. Nilai tukar rupiah saat ini pada posisi terendah sejak Oktober 2015.
Ternyata rupiah tak sendiri, pelemahan mata uang juga dialami serentak di berbagai dunia. Rupee, mata uang India, juga terkena dampak penguatan dolar AS. Mengutip data Reuters, mata uang Uni Eropa, euro diperdagangkan melemah pada angka USD 1,14 (terendah sejak 13 bulan).
Kemudian mata uang Afrika Selatan terhadap USD juga jatuh 10 persen, terendah sejak 2 tahun. Mata uang Argentina juga melemah.
Tak hanya mata uang, bursa keuangan dunia juga mengalami hantaman. Reuters melansir Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 125,44 poin atau 0,5 persen menjadi 25.187,7, sementara S&P 500 (SPX) kehilangan 11,35 poin atau 0,40 persen menjadi 2,821.93 dan Nasdaq Composite (IXIC) turun 19,40 poin atau 0,25 persen menjadi 7.819,71. Pasar modal Indonesia juga terkenda dampak, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Sesi I kemarin (13/8) anjlok 3,29 persen atau tergelincir 200,130 poin (3,29 persen) ke angka 5.877,043.
Lantas apa sebetulnya pemicu 'guncangan' dadakan di sektor keuangan dunia, termasuk merambat ke Indonesia?
Semua bermula dari Turki. Mata uang Turki, lira, selama Agustus terdrepresiasi 30 persen atau melemah lebih 40 persen sejak awal tahun. Bahkan menurut New York Times, nilai tukar lira terhadap dolar AS pada perdagangan awal Senin pagi (13/8) melemah 20% dalam sehari ke posisi USD 7,2.
Pemicunya, bersumber dari internal dan eksternal Turki. Dari sisi internal, Presiden Turki Tayyip Erdogan enggan menaikkan tingkat suku bunga di tengah meningkatnya inflasi. Erdogan, mengaku menaikkan suku bunga tidak membantu banyak dalam memperbaiki angka inflasi. Bank sentral mencoba meredam pelemahan lira dengan berjanji akan menyuntikkan likuiditas, namun pasar tidak merespons dengan positif.
Mengutip CNN, kondisi ekonomi diperparah dengan memburuknya  hubungan diplomatik antara Ankara dan Washington. Presiden Donald Trump mengenakan tarif 20 persen terhadap aluminium dan 50% terhadap baja asal Turki. Tarif ini diberikan karena Presiden Turki memerintahkan penahanan terhadap pastor asal AS, Andrew Brunson yang diduga sebagai mata-mata.
Menurut Reuters, Erdogan menilai pelemahan lira sangat dipengaruhi oleh 'serangan' eksternal. Turki disebut menjadi target perang ekonomi. Namun, pernyataan Erdogan disanggah Kanselor Jerman Angela Merkel.
"Tidak ada negara yang memiliki niat untuk menciptakan ketidakstabilan ekonomi di Turki dan Ankara seharusnya memastikan independensi dari bank sentral," ujar Angela seperti ditulis Reuters.
Akibat pelemahan lira, terjadi kepanikan di pasar keuangan dunia karena beban utang luar negeri bagi perusahaan Turki bisa membengkak. Hal ini bisa memicu gagal bayar (default) dan berpotensi menjalar ke keuangan dunia.
Investor keuangan dunia yang panik kemudian menarik dananya dan mengalihkan uangnya ke mata uang negara 'heaven' seperti franc Swiss dan yen Jepang. Nilai tukar franck Swiss terhadap mata uang euro bahkan meningkat ke angka euro 1,128 atau tertinggi sejak 1 tahun setelah masuknya dana dari berbagai negara.
Imbas ke Indonesia, dana asing keluar tercatat Rp 505,965 miliar pada penutupan IHSG Sesi I kemarin (13/8). Sementara kapitalisasi pasar mencapai Rp 6.643,367 triliun.
Tingginya dana asing yang keluar membuat nilai tukar rupiah tergerus. Bank Indonesia (BI) tak tinggal diam. Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendasrah mengatakan BI  melakukan intervensi di pasar valas untuk memastikan likuiditas valas terjaga agar harga dolar AS tidak semakin tinggi. BI akan menjalankan dual intervensi dengan stabilisasi di pasar Surat Berharga Negara (SBN).

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]